sate ayam mak nyues…………..

Anda berkunjung ke Ponorogo??? jangan lupa akan andalan kuliner Ponorogo ( selain Pecel, Dawet, dll ) hayo oooo apa??? Ya..gambar diatas..namanya sate..tapi yang andalan di Ponorogo yaitu sate ayamnya. ratusan pedagang sate ayam akan anda temui jika anda datang di Ponorogo ( kota reyog ) tapi ada salah satu pedagang sate yang mungkin udah terkenal dimana – mana. hayo dimna???? kalo pengen sate yang andalan anda bisa datang di Sate Ayam Pak Tukri Sobikun yang letaknya di gang sate. Gang yang satu ini memang sudah tersohor ke mana-mana, sebab di Gang Lawu- di Kota Ponorogo ini hampir semua penduduknya berjualan sate ayam. Ada satu nama yang terkenal yaitu Sobikun. Inilah pelopor sate Ponorogo di gang ini. Ketiga anaknya kini yang meneruskan yaitu, Tukri, Selamet dan Nandi. Sate ayam Ponorogo, rasanya gurih dan manis. Potongan dagingnya besar-besar, dan bebas lemak. Setiap irisan dipotong memanjang, dan inilah yang membedakan sate Ponorogo dengan daerah lain. Tidak cuma menyajikan bagian daging ayam saja, biasanya sate ayam Ponorogo, menyediakan kulit ayam, jeroan, dan telur. Sebelum dibakar, daging ayam ini dibumbui lebih dulu. Dan selama proses pembakaran, sate ayam ini dicelupkan dalam larutan gula merah dan kecap berulang-ulang kali sehingga rasanya meresap. mantapppppppppp… udah dulu ya..saya ngiler kalo nulis teruss…. Yang penting mampir di ponorogo berarti juga mampir beli sate…..
pejuang kehidupan ibu……………

Semenjak dalam rahim dan sampai sekarang ini pasti aku telah mengenal sosok seorang Ibu yang teramat aku cintai,sayangi dan aku kagumi yaitu IBUKU yang telah melahirkanku, merawatku dan membimbingku hingga saat ini. Tak pernah bosan aku membayangkan, mengagumi dan seharusnya mencontoh kesabaran ibuku dalam menjalani kehidupannya hingga sekarang ini.
Aku kenal ibuku yang telah melahirkan 8 anak, hidup bersama ayahku yang kukenal bertemperamen agak galak dan penuh dengan kedisiplinan (maklum ayahku seorang guru yang pasti harus disiplin pada keluarganya seperti juga pada anak didiknya). Setelah berhenti bekerja alias telah datang masa pensiun ayahku jatuh sakit, penyakit yang banyak menyerang terutama kaum lanjut usia yaitu stroke. Bertahun-tahun sampai pada akhirnya ayahku meninggal, ibuku dengan penuh kesetiaan dan kesabaran, merawat dan melayani ayahku. Karena kami tinggal di kampung berjalan kaki jarak jauh tidak begitu terasa lelah karena suasananya yang damai, dan ibuku yang telah berusia 74 tahun selalu berjalan kaki bersama temannya untuk mengunjungi makam suami mereka masing-masig. Aku kagum dan bangga pada ibuku, Ya Allah….berikan selalu kesehatan, kesabaran, kebahagiaan dan panjang umur pada ibuku.
Setelah aku menikah, ada lagi sosok Ibu yang aku kagumi yaitu Ibu Mertua-ku, yang sampai sekarang beliau masih menjalankan aktivitasnya setiap hari. Di pagi itu kira-kira hampir subuh, aku mendengar orang sedang mandi, aku tanya pada suamiku, dia bilang Ibu yang sedang mandi. Aku pun melanjutkan penelusuran itu. Setelah adzan subuh ibu langsung sholat subuh dan tidak berapa lama langsung memakai baju hangat/jaket dan bergegas keluar rumah meski pekat masih menghiasi alam, dengan berjalan kaki menuju jalan raya dan pergi kepasar naik metromini meski hanya seorang diri, berdagang adalah pekerjaan setiap hari dan beliau seakan tiada peduli dengan apa yang akan terjadi.
Pekerjaan berdagang beliau jalani semenjak ke tujuh anaknya masih kecil dan bersekolah, hal itu harus dilakukan karena sesuatu hal perpisahan dengan suaminya harus terjadi. Apabila anak-anaknya sibuk dan tidak ada seorangpun yang datang untuk membantu menutup kios, maka sebelum sholat maghrib beliau harus menutup kiosnya seorang diri dengan mengangkat papan-papan kayu untuk menutupinya.
Maafkan kesalahan mantumu ini apabila telah salah dan lancang menuliskan tentang kekagumanku pada IBU/mertua-ku, yang pergi bekerja setiap pagi subuh dan pulang pukul 8 malam untuk menghidupi ke tujuh anaknya tanpa seorang pendamping/suami. Ya Allah…..berikan beliau Kesehatan, kesabaran, kekuatan, panjang umur dan kebahagiaan….
Sepincuk cerita warok

Ponorogo identik dengan reognya. Reog bahkan sudah terkenal di dunia, sejak beberapa lama. Kelompok reog, memang tumbuh dan berkembang di mana-mana sebagai kesenian rakyat. Dari cerita tentang reog, baik yang dibicarakan secara terbuka maupun bisik-bisik, muncul pertanyaan. Apa yang menyebabkan seseorang mampu mengangkat dhadhak merak seberat 50 kilogram? Padahal, hanya dengan menggigitnya. Kekuatan gaib apa yang merasuk ke dalamnya?
Ada kekuatan yang tiba-tiba, ketika gigi manusia kuat mengangkat dhadhak merak seberat 50 kilogram. Orang biasa, tentu tidak kuat. Padahal, ia mengangkatnya sambil menari-nari. Pertanyaan ini masih terus berkembang, ketika kesenian reog dari Ponorogo ini ditampilkan. Pada tahun 1486, hutan dibabat atas perintah Bethara Katong. Bukannya tanpa rintangan. Banyak gangguan dari berbagai pihak, termasuk makhluk halus, datang. Namun, karena bantuan warok dan para prajurit Wengker, akhirnya pekerjaan membabat hutan itu lancar.
Lantas, bangunan-bangunan didirikan. Penduduk berdatangan. Setelah menjadi sebuah kadipaten, Bethara Katong kemudian memboyong permaisurinya, yakni Niken Sulastri. Sedang adiknya, Suromenggolo, tetap di tempatnya yakni di Dusun Ngampel. Oleh Katong, daerah yang baru saja dibangun itu diberi nama Prana Raga. Akhirnya, dikenal dengan nama Ponorogo.
Katong sadar ada kesenian yang bisa dikembangkan sebagai media penyebarluasan dakwah. Maka, pada tahun itu pula ia memasukkan seuntai tasbih di ujung paruh burung merak. Namun, kesenian ini sempat surut pada zaman Belanda dan Jepang.
Menurut penjelasan Sugiarso, yang menulis Sejarah Budaya Ponorogo (Penerbit Reksa Budaya, Ponorogo, 2003), pada waktu itu Belanda dan Jepang merasa direpotkan oleh kerumunan massa.
Mereka sangat takut, sehingga sempat surut karena ada larangan penjajah. Namun, semangat masyarakat tak surut.
Bahkan setelah kemerdekaan reog tidak lantas mati, justru tumbuh subur. Bahkan, sampai sekarang ini setiap Grebeg Suro yang jatuh pada 1 Muharam, reog selalu menjadi daya tarik utama. Dalam acara itu juga diadakan upacara larung risalah doa yang diadakan di Telaga Ngebel. Telaga ini terletak sekitar 24 kilometer arah timur laut Ponorogo. Berada pada ketinggian 734 meter di atas permukaan laut. Udaranya sejuk, dan di telaga itu banyak durian, nangka dan manggis bisa diperoleh.
Selain reog, ternyata warok juga sangat dominan di Ponorogo. Warok merupakan warisan budaya leluhur yang berkembang turun-temurun dan menjadi satu penyangga keutuhan daerah Ponorogo sejak masa lalu. Tak bisa dipungkiri, memang terjadi aneka ragam penafsiran mengenai warok.
Hampir tidak ada kepastian yang bisa mengklaim kebenaran seiring dengan perkembangan budaya. Namun, akhirnya pasti akan ditemukan sintesa dari kesamaan maksud atas makna yang berkembang itu. Apalagi warok sudah ada sejak zaman Wengker Kuno. Sejak runtuhnya Kerajaan Medang Prabu Darmawangsa Teguh, muncul kerajaan baru. Misalnya Kerajaan Wengker di Gunung Lawu dan Gunung Wilis.
Kerajaan Wengker didirikan Ketut Wijaya. Ia memang tidak ada hubungannya dengan Raden Wijaya pendiri Majapahit itu. Ketut Wijaya sering dikatakan mempunyai cara hidup seperti rahib Buddha, yang ditandai dengan laku membujang, memiskinkan diri dan ahimsa. Perilaku raja ini memperoleh respons dari pengikutnya dan berkembang ke masyarakat.
Raja ini juga mengangkat punggawa dan prajurit yang diambil dari pemuda-pemuda dan warok. Namun, tahun 1035 Kerajaan Wengker ini dikuasai Airlangga dan namanya diubah menjadi Kahuripan. Meski begitu, para warok tetap melanjutkan kehidupan sucinya. Sebagian ada yang menjadi penguasa lokal, yang dipercaya raja untuk mengendalikan wilayahnya.

Cikal bakal warok, berkesinambungan lagi setelah masa akhir Majapahit, sekitar 1450. Pada waktu itu Prabu Brawijaya V mempercayakan Ki Demang Suryonggalam untuk menjaga bekas Kerajaan Wengker. Ki Demang adalah kerabat sang prabu dan merupakan pemimpin warok. Kemudian sang demang menghimpun para warok untuk digembleng menjadi perwira tangguh. Momentum inilah, yang sering dikatakan sebagai cikal bakal eksistensi warok tahap kedua.
Para warok lebih eksis lagi setelah Bethara Katong mengambil alih kekuasaan Demang Suryangalam. Lantas mendirikan Ponorogo, dan memberi kedudukan yang istimewa pada para warok. Katong tahu, warok-warok itu punya kultur Hindu Buddha. Namun mereka sangat dipercaya masyarakatnya. Sementara Katong sendiri beragama Islam. Maka, terjadilah akulturasi budaya yang cantik antara Hindu Buddha dan Islam. Sejak Bethara Katong itulah posisi warok sangat istimewa di kalangan masyarakat.
flasdisk gergaji

Desain Flashdisk makin gila saja. Setalah ada flashdisk ultraman, flashdisk lucu, sekarang ada flashdisk keren berbentuk gergaji mesin. Ketika mata gergajinya dilepas, maka dapat dimasukkan ke slot USB. Yang istimewa, flashdisk ini dilengkapi dengan “darah” yang belepotan disana-sini. Khas seperti gergaji mesin di Film Residen Evil. Tertarik? Beli saja di ebay seharga 21.99.
Posting Terkait
Penelitian tentang warnet
selasa,17 feb 2009 kawan2Kalau awak melakukan penelitian tentang kriminalitas, apapun bentuknya, sendirinya termasuk ttg penyalahgunaan warnet untuk konsumsi pelempiasan nafsu pornografik, yang kita tentukan adalah garis toleransi ambang batas, bukan masalah generalisasi. Makin liberal dan makin sekuler masyarakat itu, makin tinggi tingkat ambang batas itu. Begitu juga sebaliknya. Nah, yang menarik, kenyataan sosiologiknya bisa terbalik. Negara-negara yang kita sangka liberal dan sekuler justeru menerapkan kode-kode etik yang cukup ketat untuk menjaga nilai-nilai moral di wilayah publik. Kalau soal pribadi di rumah masing2, itu kan lain. Di negara2 yang katanya berkebudayaan tinggi dan bermoral luhur, seperti Indonesia ini, yang notabene mayoritas terbesar rakyatnya adalah muslim, kenyataannya adalah seperti yang kita lihat ini. Apapun, dan apa saja, kayaknya sawahnya tidak berpematang lagi. Nilai-nilai moral terabaikan. Lalu di belakangnya siapa? Tak lain, cukong2 yang punya warnet itu, yang dengan sengaja membikin sekat2 itu untuk value added komersialnya. Dan sengaja merusak akhlak anak bangsa pribumi ini agar ekonomi negeri ini tetap berada di tangan mereka. Kasus orang2 Eskimo, Indian, Negro, Negritos, Aborigin, dan sekarang pribumi Melayu di Indonesia ini, sengaja dirusak akhlaknya untuk tujuan perpetuasi - pelanggengan - kekuasaan penjajahan ekonomi oleh cukong2 dan mnc lain2nya itu. Pada hal di tanah leluhurnya sendiri, di Tiongkok, dan di Singapura, di Malaysia, Thailand, Laos, Kambodia, Vietnam, Australia, dsb, yang semuanya sudah saya lihat, tak ada dan tak dibolehkan adanya sekat2 itu. Dan tempat2 untuk bersitungkin baraja di ruang2 perpustakaan, dan di mana saja di kampus2 di dunia ini tak ada ruang komputer yang pakai sekat2. Faktor lain kecuali cukong itu adalah faktor yang bersarang dalam dada kita sendiri. Nah, tanyai dada itu, dan tanyai diri, baik mana pakai sekat atau tak pakai sekat. Teriring salam untuk semua, Mochtar Naim, calon DPD no 25 dari Sumbar. --- On Mon, 2/16/09, Muljadi Ali Basjah <mulj...@gmx.de> wrote: > From: Muljadi Ali Basjah <mulj...@gmx.de> > Subject: [...@ntau-net] Re: PENELITIAN TTG PRAKTEK WARNET > To: RantauNet@googlegroups.com > Date: Monday, February 16, 2009, 10:00 AM > Ass.Wr.Wb Bapak Arief Rangkayo Mulia jo ummaik RN di > Palanta! > > Ambo cubo manjawab partanyoan P'Arief Rangkayo Mulia. > Mudah2an, tarimonyo indak sunsang dek P'Arief Rangkayo > Mulia baitu juo dek ummaik RN diPalanta. > > Kamanakan P'Arief Rangkayo Mulia itu mambuek skripsi > tantang praktek warnet. Lho itukan ilmiah, namonyo, dibawah > linduangan jo dukuangan Prof. nan legitimasi nyo formal dan > legal. > Salain itu Profesornyo tantu indak malapehkan baitu sajo > M'Siswinyo manulih/maneliti dll. dsbnyo. Effekt > sampiangnyo, kito doakan sajo supayo indak bakataruihan. Dek > jadi ilmuwan itu tantu ado risikonyo, tapi risiko iko tantu > alah dikalkulasi dek M'Siswi jo Professor > pambimbiangnyo. > Kalau cameh itu biaso, tando sayang P'Arief Rangkayo > Mulia jo kamanakannyo. > > Wassalam, > Muljadi,German > > -------- Original-Nachricht -------- > > Datum: Tue, 17 Feb 2009 00:37:51 +0700 > > Von: ARIEF <ariefb...@gmail.com> > > An: RantauNet@googlegroups.com > > Betreff: [...@ntau-net] PENELITIAN TTG PRAKTEK WARNET > > > Assalamu'alaikum W W > > > > Pak Mochtar dan dunsanak salingka Palanta RN... > > > > Indak banyak komentar ambo tentang warnet ko doh.... > > Ambo caliak bukan generalisir atau masalah dramatisir > dari kondisi warnet > > ko... > > Ambo kini sadang di Bukittinggi, dan untuak meng akses > internet harus ka > > warnet. > > Sebagian besar (di atas 80%) apo nan Bapak/uda > caritoan tadi ambo alami. > > > > Dek ambo bukan penguasa, tantu indak punyo kuasa pulo > managah urang2 nan > > di > > warnet tu... > > > > Ado hal menarik nan ingin ambo sampaikan > > > > Dek jengah dengan perilaku tersebut, kamanakan ambo > kini sadang > > manyalasaikan SKRIPSI di Jurusan SOSIOLOGI UNAND > tentang perilaku > > menyimpang anak SMP/ SMA sarato mahasiswa dengan > warnet nan di sekat2 ko. > > (salah seorang pendiri jurusan ko kalo dak salah apak > ambo Pak MOCHTAR > > NAIM) > > > > Dari beberapa orang nan di caritokannyo dalam hasil > wawancara nyo tu > > ternyata maramang bulu kuduak ambo jadi nyo > > > > Kamanakan ambo ko padusi, dan ingin ambo tagah inyo > melanjutkan penelitian > > skripsi nyo, tapi dek iko realita nan terjadi dan > kemudian kamanakan tu > > ambo caliak lai bisa memprotek dirinyo agar tidak > tapangaruah, mako ambo > > hanya bisa mendorong dan mancubo mancarikan beberapa > solusi alternatif > > agar > > inyo indak terseret pulo > > > > Nan saketek agak heran ambo pembimbing skripsi nyo nan > juo adalah mantan > > murid Pak Mochtar dulu di SOSIO UNAND, berusaha > mencegah agar kamanakan ko > > tidak melanjutkan penelitiannyo. Dek dak dapek di > cegah, mako nyo palambek > > lah penelitian ko dengan cara mengulur waktu mamareso > hasil penelitian. > > > > Antah lah, > > Apakah baliau mungkin sajo salah seorang pemilik > warnet atau mungkin > > dunsanak adiak kawan pak etek baliau pengusaha warnet > pulo di SUMBAR, > > indak > > mangarati ambo doh.... > > > > Ba a kolah jalan kalua nyo pak MOCHTAR??? > > > > > > > > Wassalam W W > > > > > > Arief Rangkayo Mulia > > > > Pada 29 Januari 2009 15:04, benni_inayatullah > > <benni_inayatul...@yahoo.com>menulis: > > > > > > > > saya rasa pembahasan ini perlu dilengkapi dengan > data berupa nama > > > warnet ataupun photo yang mengungkapkan secara > jelas bahwa praktek > > > seperti ini memang banyak di Sumbar. Penyakit > urang awak kan suka > > > mengeneralisasi setiap persoalan sehingga seolah > olah semua warnet > > > seperti itu. > > > > > > Perlu juga ditetapkan standar sekat yang > mengakomodasi syahwat itu > > > seperti apa dan sekat yang masih wajar sekedar > untuk menjaga privasi > > > pemakai itu seperti apa. > > > > > > Hal ini untuk menjaga agar pembahasan kita tidak > melebar kesana > > > kemari sehingga berujung fitnah. terus terang > saya sebagai pemakai > > > warnet juga, merasa nyaman dengan adanya sekat > tersebut ketimbang > > > tdiak ada sekat meskipun kadang suka berpikir > yang tidak-tidak juga > > > kalau ada user yang masuk adalah pasangan. > > > > > > BTW rasanya program pemerintah tentang UU > pornografi sudah jalan > > > serta menteri kominfo juga sudah melakukan blokir > terhadap situs > > > porno. Kalau hal itu efktif rasanya lebih baik > ketimbang mengharuskan > > > warnet tanpa sekat. > > > > > > > > > salam > > > > > > Ben
Lampu senter + infrared

Setiap kali bertugas berkeliling komplex, Paijo sang Satpam selalu tampak berani dan gagah. Namun dari hatinya yang paling dalam, Paijo selalu merasa was-was. Ia sebenarnya juga merasa takut jika saat berkeliling kompleks dan memergoki kejahatan, ia takut juga kalau si penjahat sampai nekat. Apalagi beasanya saat malam kondisi kompleks lumayan gelap. Biasanya lampu senter miliknya kurang cukup bisa menerangi jalan.
Tapi kini, semenjak ada lampu senter baru pemberian si bos, Paijo tidak lagi kuatir. Senter pemberian si bos ini dibeli di Hammacher dengan harga $400. Gile.. setara dengan gaji paijo 6 bulan ini. Lampu senter in mampu menerangi jalan di depan Paijo sejauh 13 kaki. Teknologinya juga mutahir. Menggunakan 17 buah infrared LED, lampu senter ini juga dilengkapi dengan kamera video. Video yang dihasilkan sendiri memiliki resolusi 640×480 piksel pada 30 frame per sekon. Lampu senter berkamera milik paijo ini juga dilengkapi dengan memori internal 128 MB dan slot micro SD. Pada bagian gagangnya juga dilengkapi dengan LCD yang akan menampilkan status baterei saat itu.
Nah, semenjak memiliki kamera ini, si Paijo sekarang berani keliling kompleks dengan percaya diri. Bahkan dia sering memergoki anak SMA disekitar kompleks yang lagi main dakon malam-malam. Dan paijo juga merekamnya dengan kamera di lampu senternya dan membuatnya sebagai video 3gp anak sma kompleks (halah.. nembak kiwot) Jadi, jika anda menginginkan video anak SMA lagi main dakon dalam format 3gp, hubungi paijo.. wkakakaak
Kemiskinan di masyarakat
Kemiskinan kerapkali menjadi primadona topik pembicaraan baik dalam diskusi atau pun seminar yang seakan tak pernah habis untuk dibahas. Topik kemiskinan selalu hangat menjadi perbincangan di kehidupan berbangsa dan bernegara.
Momentum pelaksanaan Pemilihan Umum (pemilu) legislatif dan pemilihan presiden dan wakil presiden pun ikut mendongkrak “popularitas” kemiskinan. Tak sedikit dari mereka baik tokoh politik maupun partai politik yang menjadikan isu kemiskinan sebagai komoditas kampanye menjaring suara pemilih guna meraup simpati rakyat. Berbagai cara digunakan oleh kontestan untuk meraup simpati masyarakat dengan berbekal kemiskinan. Dari menguraikan air mata, memakan nasi aking, berderma dengan pamrih, beriklan ratusan milyar, mengkritik pemerintahan yang sedang menjalankan amanah, menyerang kandidat lain, merusak pohon (dengan memaku poster dan baliho kandidat), memberikan janji program penghapusan kemiskinan, sampai dengan melakukan berbagai cara agar dapat “menumpang” program-program pemerintah untuk penanggulangan kemiskinan untuk bisa memanfaatkannya bagi kepentingan pemenangan pemilu.

Perilaku kandidat legislatif dan Presiden serta Wakil Presiden yang menggunakan isu kemiskinan telah sedikit banyak membentuk opini masyarakat bahwa kita ini adalah bangsa yang miskin dan terjadi pemiskinan yang parah. Pemerintah seakan-akan tampak bodoh, tidak berbuat apa-apa. Hampir seluruh media, baik media cetak maupun media elektronik telah mencitrakan para kandidat ini adalah seakan-akan pahlawan atau ‘Satrio Piningit’ yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat dalam menghapus kemiskinan.
Dalam menyikapi ini semua, sebagian besar masyarakat awam haruslah pandai-pandai menyaring berbagai informasi yang diterima. Memang sangat disayangkan bahwa isu kemiskinan digunakan oleh para kandidat legislatif dan Presiden serta wakil Presiden sebagai ‘senjata’ politik untuk meraih kepentingan atau kemenangan politik. Ini menunjukkan bahwa kadar kenegarawanan (statemanship) dari para kandidat demikian rendah. Bila kadar kenegarawanannya tinggi, tidak mungkin para kandidat ini akan menggunakan isu kemiskinan ini untuk digunakan menyerang lawan-lawan politiknya. Bila kadar kenegarawannya para kandidat ini cukup tinggi, mereka akan mampu mengeyampingkan segala urusan dan kepentingan politik mereka dan golongannya dan memandang isu kemiskinan ini adalah suatu persoalan bangsa yang harus dibahas bersama tanpa melihat warna politik dan latar belakang ideologinya. Bila kadar kenegarawanannya tinggi, tidak akan ‘tega’ mereka menjual isu kemiskinan untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya, sementara masyarakat miskin tidak mendapatkan apa-apa yang nyata dari mereka. Bila kadar kenegarawanannya tinggi, maka mereka akan mengajak lawan-lawan politiknya untuk bekerja bersama menangani persoalan kemiskinan ini.
Hal ini telah dilakukan dan ditunjukkan dengan baik oleh Barack Hussein Obama, Presiden Amerika Serikat periode 2009 – 2014, pada saat berjuang untuk memenangkan kursi kepresidennya. Mengapa di Indonesia yang katanya Negara yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, sikap dan kadar kenegarawan para elit-elit politik sangat rendah? Bisakah mereka bertemu dengan lawan politiknya bahkan mengajak untuk membangun bangsa dan melupakan persaingan atau kompetisi pada saat berjuang meraih kemenangan politik?
Oleh karena itu, jangan disalahkan bilamana masyarakat semakin muak dan bosan dengan perilaku para kandidat dan elit-elit politik saat ini. Isu kemiskinan tidak dilihat lagi secara obyektif tapi sebaiknya isu kemiskinan dijadikan senjata untuk menjatuhkan lawan-lawan politiknya. Dan ini akan menurunkan kepercayaan masyarakat kepada para kandidat tersebut.
Bagaimana menyikapi hal ini, pada hemat saya, sudah waktunya para elit yang sedang dan akan bertarung dalam meraih kemenangan dalam pemilu untuk bicara lebih jelas, konkrit dan memberikan solusi-solusi nyata serta realistis mengenai penghapusan kemiskinan dan tidak terjebak pada memberikan janji-janji kosong, menggunakan isu kemiskinan menjadi bagian dari politik pencitraan atau pelisptikan kemiskinan. Juga tidak terjebak pada perilaku yang sifatnya ‘show of force”, atau ‘menunjukkan dirinya jauh lebih bisa mampu dan handal dalam menghapuskan kemiskinan. Masyarakat sangat paham bahwa penghapusan kemiskinan merupakan tugas dan kerja bersama. Tidak ada satu orangpun yang dapat memproklamirkan bahwa dirinya atau kelompoknya saja yang paling hebat dalam upaya menghapus kemiskinan. Upaya penanggulangan kemiskinan adalah milik rakyat karena rakyatlah yang bekerja paling keras untuk meningkatkan kesejahteraannya.
Sangatlah jelas bagi masyarakat, bahwa para kandidat yang menggunakan isu kemiskinan untuk digunakan menyerang lawan-lawan politiknya dan juga menyerang pemerintahan yang sah adalah kandidat yang kadar kenegarawannya rendah dan diragukan kemampuan dan keteguhannya dalam menghapus kemiskinan. Bilamana menang, belum tentu isu kemiskinan akan menjadi prioritasnya lagi. Sejarah telah banyak membuktikan untuk hal ini. Terpulang kepada masyarakat apakah masyarakat akan memilih kandidat yang kadar kenegarawannya tinggi atau rendah.
Secara faktual, tahun 2009 memang menjadi tahun yang penuh tantangan dan harapan bagi pemerintah khususnya dalam usaha mengurangi jumlah kemiskinan. Sebagai tahun “politik” dan adanya dampak krisis keuangan global maka sedikit banyak akan berpengaruh terhadap dinamika pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan. Di tahun ini pula, ujung pelaksanaan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2009.
Oleh karena itu, pemeritah kembali memberikan prioritas lebih bagi pengurangan kemiskinan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2009. Dalam RKP 2009 pemerintah tetap akan menekankan penurunan tingkat kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja. Untuk itu tema RKP 2009 adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat dan pengurangan kemiskinan dengan 3 prioritas yaitu peningkatan pelayanan dasar dan pembangunan pedesaan, percepatan pertumbuhan yang berkualitas, dan memperkuat daya tahan ekonomi yang didukung oleh pembangunan pertanian.
Berdasarkan UU Nomor 41 Tahun 2008 Tentang APBN 2009, sasaran tingkat kemiskinan pada tahun 2009 ditetapkan pada rentang 12 – 14 % yang berarti lebih rendah dari capaian tahun 2008 sebesar 15,42 %. Adanya target tersebut membuat banyak kalangan dan pemberitaan media massa yang pesimis bahwa angka tersebut akan tercapai. Bahkan mereka memprediksi angka kemiskinan di tahun 2009 ini akan meningkat dibanding tahun sebelumnya. Meski demikian, perasaan optimis dapat mengurangi kemiskinan selayaknya kita tanamkan dalam diri setiap insan di negeri ini. Sebagaimana, rasa optimistis yang dimiliki pemerintah untuk bisa mencapai target ini melalui pelaksanaan program-programnya.
Rasa optimisme tersebut diungkapkan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat selaku Ketua Tim Pelaksana Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) dalam evaluasi awal terhadap perkembangan penanggulangan kemiskinan Tahun 2009 pada bulan Februari lalu. Evaluasi tersebut menggunakan capaian pada tahun 2008 sebagai dasar perhitungan (baseline) dengan jumlah penduduk miskin per bulan Maret 2008 tercatat berjumlah 34,96 juta jiwa (15,42%). Dengan pertimbangan perkembangan dampak krisis keuangan global di Indonesia, maka Pemerintah mengusulkan pada DPR untuk merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009 yang semula direncanakan sebesar 6% menjadi 4 – 5 %, dengan target inflasi sebesar 6,0%. Perubahan target pertumbuhan ekonomi tersebut membuat proyeksi angka kemiskinan berdasarkan prakiraan Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 29,99 juta jiwa (13,23%).
Akan tetapi jika inflasi melewati angka 9% dan pertumbuhan ekonomi pada tingkat 4,5 %, maka jumlah penduduk miskin diperkirakan mencapai 14,87% atau sekitar 33,71 juta jiwa. Angka tersebut tentunya tetap lebih rendah dari angka kemiskinan tahun 2008. Rasa optimisme turunnya angka kemiskinan tetap terjaga karena adanya intevensi langsung dari pemerintah yang memberikan bantuan tunai masyarakat tanpa lewat birokrasi. Pemerintah juga telah merencanakan berbagai percepatan program-program penanggulangan kemiskinan dalam 3 klaster. Pemerintah juga menetapkan program PNPM Mandiri dan Kredit Usaha Rakyat di Klaster 2 dan 3 sebagai bantalan pengaman untuk menyerap lebih banyak lagi tenaga kerja termasuk menampung PHK.
Demikian juga dengan program-program pemerintah yang tercakup dalam klaster pertama yaitu Raskin, PKH, BLT, Jamkesmas, BOS, akan sangat berperan besar dalam upaya penanggulangan kemiskinan jika dapat dilaksanakan secara efektif sejak triwulan pertama tahun 2009.
Untuk program PNPM Mandiri diperkirakan dapat menyalurkan Bantuan Langsung masyarakat (BLM) sebesar Rp. 11,01 trilyun pada tahun 2009. Dengan jumlah tersebut makan diharapakan jumlah penerima manfaat langsung akan mencapai 8 – 9 juta orang dan penyerapan tenaga kerja sebesar 3 – 4 juta orang. PNPM Mandiri secara tidak langsung juga akan memberikan manfaat kepada lebih dari 33 juta masyarakat. PNPM Mandiri sendiri telah dinyatakan oleh berbagai Lembaga Internasional sebagai program pemberdayaan masyarakat (community driven development program/CDD) yang terbesar di dunia dalam cakupan dan yang paling lengkap. Dengan jumlah peserta aktif dalam program-program yang berada dalam wadah PNPM Mandiri, yaitu PNPM-Perdesaan yang dulu namanya Program Pengembangan kecamatan (PPK) dimulai tahun 1998, PNPM-Perkotaan yang dulunya adalah Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) yang dimulai sejak tahun 1999, dan program-program lainnya, maka peserta aktif sampai dengan bulan Oktober 2008 tercatat sekitar 41, 3 juta jiwa. Dan peserta tidak langsung adalah sekitar 24 juta jiwa. Tersebar di hampir semua desa terutam desa-desa miskin dan tertinggal di Indonesia.
Oleh karena itu, telah sekitar banyak perwakilan dari 33 negara yang dikirim untuk mempelajari PNPM Mandiri ini baik secara keseluruhan maupun pada program-program yang berada dalam PNPM Mandiri. Justru media massa luar negeri lebih gencar dalam mengapresiasi keberhasilan berbagai program penanggulangan kemiskinan yang dijalankan oleh pemerintah saat ini, misalnya PNPM Mandiri, PKH, BLT, BOS dan Jamkesmas (hanya 3 negara yang memberikan Jamkesmas bagi masyarakat miskin yang menanggung secara gratis operasi besar dan berat misalnya operasi jantung, ginjal, kanker, dan lain-lain dan Indonesia salah satunya).
Di sisi lain melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) sesuai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2009, pemerintah menetapkan tambahan penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Rp 1,4 triliun menjadi Rp 3,4 triliun dengan target penyaluran kredit kumulatif sebesar Rp. 34 Trilyun sampai dengan tahun 2009. Besarnya dana penjaminan tersebut diprediksi akan menyerap sebanyak 4,5 juta tenaga kerja.
Di samping itu, peluang bagi mereka korban PHK untuk memperoleh bantuan usaha sangat besar. Pekerja korban PHK bisa diarahkan untuk menghubungi unit pelaksana program PNPM Mandiri seperti Unit Pengelola Kegiatan (UPK) di tingkat kecamatan di desa dan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) di tingkat kelurahan di perkotaan sehingga dapat mengajukan permohonan kredit usaha. Jika beragam upaya yang ada tersebut dapat terlaksana, maka target penanggulangan kemiskinan sebagai indikator pencapaian pemerintah tentunya dapat terpenuhi.
Program-program yang dijalankan oleh Pemerintah saat ini tidak banyak direspon positif dan didukung oleh para elit-elit kandidat yang sedang berjuang untuk meraih suara rakyat dalam pemilu legislatif dan Presiden & Wakil Presiden. Sementara masyarakat, khususnya pemanfaat program-program ini sangat antusias memanfaatkan dan menjalankan program ini. Maka saat ini terjadi adanya kesenjangan aspirasi politik antara masyarakat dan wakil-wakil yang sesungguhnya harus menyuarakan aspirasi masyarakat miskin. Buktinya, masih banyak daerah-daerah yang DPRD-nya menolak untuk menyediakan dana daerah untuk program bersama untuk PNPM Mandiri. Bahkan ada yang secara eksplisit menolak untuk mendukung pelaksanaan PNPM Mandiri dengan tidak menyediakan dana partisipasi daerahnya dengan berbagai alasan, padahal masyarakatnya sangat antusias.
Penutup
Perdebatan mengenai isu kemiskinan yang dilakukan oleh para kandidat yang sedang berjuang dalam pemenangan Pemilu baik pemilu legislatif maupun pemilu Presiden dan wakil Presiden akan menunjukkan sampai sejauh mana kadar kenegarawan masing-masing kandidat tersebut. Bila tarafnya masih menggunakan dan memanfaatkan isu kemiskinan sebagai senjata untuk ‘pamer’ dan digunakan sebagai senjata untuk menyerang lawan-lawan politiknya, maka pada hemat saya, ini menunjukkan kadar kenegarawannya masih rendah. Terpulang kepada kita semua dalam menentukan pilihan kepada kandidat yang betul-betul memperjuangan nasib rakyat banyak terutama rakyat miskin ke depan.
Dimuat di majalah KOMITE, edisi 15-31 Maret ‘09
Kalau awak melakukan penelitian tentang kriminalitas, apapun bentuknya,
sendirinya termasuk ttg penyalahgunaan warnet untuk konsumsi pelempiasan nafsu
pornografik, yang kita tentukan adalah garis toleransi ambang batas, bukan
masalah generalisasi. Makin liberal dan makin sekuler masyarakat itu, makin
tinggi tingkat ambang batas itu. Begitu juga sebaliknya. Nah, yang menarik,
kenyataan sosiologiknya bisa terbalik. Negara-negara yang kita sangka liberal
dan sekuler justeru menerapkan kode-kode etik yang cukup ketat untuk menjaga
nilai-nilai moral di wilayah publik. Kalau soal pribadi di rumah masing2, itu
kan lain. Di negara2 yang katanya berkebudayaan tinggi dan bermoral luhur,
seperti Indonesia ini, yang notabene mayoritas terbesar rakyatnya adalah
muslim, kenyataannya adalah seperti yang kita lihat ini. Apapun, dan apa saja,
kayaknya sawahnya tidak berpematang lagi. Nilai-nilai moral terabaikan.
Lalu di belakangnya siapa? Tak lain, cukong2 yang punya warnet itu, yang
dengan sengaja membikin sekat2 itu untuk value added komersialnya. Dan sengaja
merusak akhlak anak bangsa pribumi ini agar ekonomi negeri ini tetap berada di
tangan mereka. Kasus orang2 Eskimo, Indian, Negro, Negritos, Aborigin, dan
sekarang pribumi Melayu di Indonesia ini, sengaja dirusak akhlaknya untuk
tujuan perpetuasi - pelanggengan - kekuasaan penjajahan ekonomi oleh cukong2
dan mnc lain2nya itu.
Pada hal di tanah leluhurnya sendiri, di Tiongkok, dan di Singapura, di
Malaysia, Thailand, Laos, Kambodia, Vietnam, Australia, dsb, yang semuanya
sudah saya lihat, tak ada dan tak dibolehkan adanya sekat2 itu. Dan tempat2
untuk bersitungkin baraja di ruang2 perpustakaan, dan di mana saja di kampus2
di dunia ini tak ada ruang komputer yang pakai sekat2. Faktor lain kecuali
cukong itu adalah faktor yang bersarang dalam dada kita sendiri. Nah, tanyai
dada itu, dan tanyai diri, baik mana pakai sekat atau tak pakai sekat.
Teriring salam untuk semua, Mochtar Naim, calon DPD no 25 dari Sumbar.
--- On Mon, 2/16/09, Muljadi Ali Basjah <mulj...@gmx.de> wrote:
> From: Muljadi Ali Basjah <mulj...@gmx.de>
> Subject: [...@ntau-net] Re: PENELITIAN TTG PRAKTEK WARNET
> To: RantauNet@googlegroups.com
> Date: Monday, February 16, 2009, 10:00 AM
> Ass.Wr.Wb Bapak Arief Rangkayo Mulia jo ummaik RN di
> Palanta!
>
> Ambo cubo manjawab partanyoan P'Arief Rangkayo Mulia.
> Mudah2an, tarimonyo indak sunsang dek P'Arief Rangkayo
> Mulia baitu juo dek ummaik RN diPalanta.
>
> Kamanakan P'Arief Rangkayo Mulia itu mambuek skripsi
> tantang praktek warnet. Lho itukan ilmiah, namonyo, dibawah
> linduangan jo dukuangan Prof. nan legitimasi nyo formal dan
> legal.
> Salain itu Profesornyo tantu indak malapehkan baitu sajo
> M'Siswinyo manulih/maneliti dll. dsbnyo. Effekt
> sampiangnyo, kito doakan sajo supayo indak bakataruihan. Dek
> jadi ilmuwan itu tantu ado risikonyo, tapi risiko iko tantu
> alah dikalkulasi dek M'Siswi jo Professor
> pambimbiangnyo.
> Kalau cameh itu biaso, tando sayang P'Arief Rangkayo
> Mulia jo kamanakannyo.
>
> Wassalam,
> Muljadi,German
>
> -------- Original-Nachricht --------
> > Datum: Tue, 17 Feb 2009 00:37:51 +0700
> > Von: ARIEF <ariefb...@gmail.com>
> > An: RantauNet@googlegroups.com
> > Betreff: [...@ntau-net] PENELITIAN TTG PRAKTEK WARNET
>
> > Assalamu'alaikum W W
> >
> > Pak Mochtar dan dunsanak salingka Palanta RN...
> >
> > Indak banyak komentar ambo tentang warnet ko doh....
> > Ambo caliak bukan generalisir atau masalah dramatisir
> dari kondisi warnet
> > ko...
> > Ambo kini sadang di Bukittinggi, dan untuak meng akses
> internet harus ka
> > warnet.
> > Sebagian besar (di atas 80%) apo nan Bapak/uda
> caritoan tadi ambo alami.
> >
> > Dek ambo bukan penguasa, tantu indak punyo kuasa pulo
> managah urang2 nan
> > di
> > warnet tu...
> >
> > Ado hal menarik nan ingin ambo sampaikan
> >
> > Dek jengah dengan perilaku tersebut, kamanakan ambo
> kini sadang
> > manyalasaikan SKRIPSI di Jurusan SOSIOLOGI UNAND
> tentang perilaku
> > menyimpang anak SMP/ SMA sarato mahasiswa dengan
> warnet nan di sekat2 ko.
> > (salah seorang pendiri jurusan ko kalo dak salah apak
> ambo Pak MOCHTAR
> > NAIM)
> >
> > Dari beberapa orang nan di caritokannyo dalam hasil
> wawancara nyo tu
> > ternyata maramang bulu kuduak ambo jadi nyo
> >
> > Kamanakan ambo ko padusi, dan ingin ambo tagah inyo
> melanjutkan penelitian
> > skripsi nyo, tapi dek iko realita nan terjadi dan
> kemudian kamanakan tu
> > ambo caliak lai bisa memprotek dirinyo agar tidak
> tapangaruah, mako ambo
> > hanya bisa mendorong dan mancubo mancarikan beberapa
> solusi alternatif
> > agar
> > inyo indak terseret pulo
> >
> > Nan saketek agak heran ambo pembimbing skripsi nyo nan
> juo adalah mantan
> > murid Pak Mochtar dulu di SOSIO UNAND, berusaha
> mencegah agar kamanakan ko
> > tidak melanjutkan penelitiannyo. Dek dak dapek di
> cegah, mako nyo palambek
> > lah penelitian ko dengan cara mengulur waktu mamareso
> hasil penelitian.
> >
> > Antah lah,
> > Apakah baliau mungkin sajo salah seorang pemilik
> warnet atau mungkin
> > dunsanak adiak kawan pak etek baliau pengusaha warnet
> pulo di SUMBAR,
> > indak
> > mangarati ambo doh....
> >
> > Ba a kolah jalan kalua nyo pak MOCHTAR???
> >
> >
> >
> > Wassalam W W
> >
> >
> > Arief Rangkayo Mulia
> >
> > Pada 29 Januari 2009 15:04, benni_inayatullah
> > <benni_inayatul...@yahoo.com>menulis:
> >
> > >
> > > saya rasa pembahasan ini perlu dilengkapi dengan
> data berupa nama
> > > warnet ataupun photo yang mengungkapkan secara
> jelas bahwa praktek
> > > seperti ini memang banyak di Sumbar. Penyakit
> urang awak kan suka
> > > mengeneralisasi setiap persoalan sehingga seolah
> olah semua warnet
> > > seperti itu.
> > >
> > > Perlu juga ditetapkan standar sekat yang
> mengakomodasi syahwat itu
> > > seperti apa dan sekat yang masih wajar sekedar
> untuk menjaga privasi
> > > pemakai itu seperti apa.
> > >
> > > Hal ini untuk menjaga agar pembahasan kita tidak
> melebar kesana
> > > kemari sehingga berujung fitnah. terus terang
> saya sebagai pemakai
> > > warnet juga, merasa nyaman dengan adanya sekat
> tersebut ketimbang
> > > tdiak ada sekat meskipun kadang suka berpikir
> yang tidak-tidak juga
> > > kalau ada user yang masuk adalah pasangan.
> > >
> > > BTW rasanya program pemerintah tentang UU
> pornografi sudah jalan
> > > serta menteri kominfo juga sudah melakukan blokir
> terhadap situs
> > > porno. Kalau hal itu efktif rasanya lebih baik
> ketimbang mengharuskan
> > > warnet tanpa sekat.
> > >
> > >
> > > salam
> > >
> > > Ben